Home » Artikel »

Kulit Si Kecil Mudah Memar Adalah Ciri Anak Kurang Gizi?

Kulit Si Kecil Mudah Memar Adalah Ciri Anak Kurang Gizi?

Kulit Si Kecil Mudah Memar Adalah Ciri Anak Kurang Gizi?

Artikel


Tubuh kita memerlukan makanan bergizi seimbang agar dapat berfungsi dengan baik. Untuk Si Kecil, makanan bergizi adalah unsur utama dalam tumbuh kembang optimal tubuhnya. Pengaruh kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan yaitu sejak pembuahan sampai Si Kecil berusia dua tahun, tidak hanya terhadap perkembangan fisik, tetapi juga pada perkembangan kognitif yang nantinya dapat berpengaruh terhadap kecerdasan dan ketangkasan berpikir. Kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan juga dikaitkan dengan risiko terjadinya penyakit kronis pada usia dewasa, yaitu kegemukan, penyakit jantung, stroke, diabetes, dan lainnya. Saat Si Kecil berusia 6-24 bulan, kebutuhan terhadap berbagai zat gizi semakin meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI saja. Pada usia ini Si Kecil sedang mengalami periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terekspos terhadap infeksi dan secara fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan zat gizi harus terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas Si Kecil dan keadaan infeksi. Agar mencapai gizi seimbang maka Si Kecil perlu diperkenalkan pada Makanan Pendamping ASI atau MPASI, sementara ASI tetap diberikan sampai ia berusia 2 tahun. Berdasarkan data WHO 2014, Indonesia menempati urutan ke-17 dari 117 negara dengan prevalensi wasting (perawakan kurus) dan stunting (perawakan pendek) yang tinggi pada balita. “Masalah perawakan pendek, tidak berhenti di tinggi badan Si Kecil. Dalam jangka pendek, kekurangan zat besi dan asam amino berdampak pada tumbuh kembang, daya tahan tubuh, dan fungsi kognitif. Tanpa asupan nutrisi yang cukup, dalam jangka panjang, kekurangan zat besi yodium, zinc dan vitamin A, bisa mengakibatkan terjadinya penurunan IQ dan risiko penyakit seperti kegemukan dan hipertensi,” jelas Dr. Attila Dewanti, SpA(K), Pakar Kesehatan Bayi dan Anak. Bagaimana cara menilai kualitas gizi Si Kecil? Menurut Departemen Kesehatan RI, dalam penilaian status gizi, diperlukan Standar Antropometri (pengukuran tubuh) yang mengacu pada standar WHO 2006. Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi gizi buruk di pusat layanan kesehatan antara lain:

  • Pengukuran berat badan, panjang dan tinggi badan, lingkar kepala.
  • Pemeriksaan tanda klinis.
  • Pembandingan hasil pengukuran dengan rujukan penilaian status gizi.
  • Pemeriksaan laboratorium tambahan seperti pemeriksaan darah secara lengkap (mulai dari sel darah putih, sel darah merah, hingga pembekuan darah).
Selain rasio berat badan atau tinggi badan yang di bawah kategori normal, serta perlambatan pada kurva pertumbuhan, berikut adalah indikasi gizi buruk:
  • Perilaku: mudah rewel, kurang responsif, sulit konsentrasi.
  • Kulit: perubahan warna menjadi pucat, kering, kusam, mudah timbul memar, lapisan lemak berkurang.
  • Kuku: kuku rapuh, bergerigi, nampak pecah-pecah.
  • Rambut: kering, mudah rontok, berubah warna menjadi kecokelatan atau kemerahan.
  • Tulang ,sendi dan otot: tulang yang rapuh, nyeri sendi.
  • Rongga mulut: gusi mudah berdarah, sariawan.
  • Mata: gangguan penglihatan (seperti buram), lebih sensitif terhadap cahaya.
Untuk mengetahui data terkini Bunda harus rutin mengevaluasi Si Kecil ke dokter anak. Agar tumbuh kembang Si Kecil berjalan optimal, pastikan kebutuhan nutrisi hariannya terpenuhi dengan baik.

Artikel Terkait